Selasa, 03 Maret 2015

AKHIRNYA

"jangan memilih pasangan hidup seperti memilih kucing dalam karung" itulah salah satu kalimat dari teman saya disela-sela perbincangan hangat kita tentang wanita.  Memang benar apa kata teman saya itu bahwa pasangan hidup adalah partner hidup kita kelak, bagaikan apotik dia selalu setia 24 jam bersama kita, maka dari itu untuk mencari partner seperti itu memerlukan kecermatan, ketelitian dan kehati-hatian layaknya menghitamkan jawaban di lembar kerja komputer (LJK). 

Bukan bermaksud untuk memilih-milih, karena saya sadar senajan aku ora buagus,  tapi saya juga harus selektif dalam mencari pasangan hidup. Bukan paras yang menjadi prioritas, bukan harta yang menjadi utama, tetapi jenis kelaminlah yang menjadi pertimbangan utama. Buat apa cantik kalau laki-laki??.

Sebagai lelaki yang karismatik dan ngangenin (ingat saya tidak ganteng, hanya saja karismatik dan ngangenin!), saya sadar bahwa mungkin banyak wanita diluar sana yang mengharapkan saya sebagai partner hidup mereka. tapi mungkin karena saya terlalu selektif dan masih dalam tahap penyembuhan "cedera hati"  pasca bertanding melawan kerasnya penolakan teletubies *tratak dung ceess (drum) seingga saya harus menolak semua permintaan menggiurkan itu. Tetapi itu semua telah berlalu, kini saya mulai bisa melanjutkan hari dengan senyuman itu karena sekarang ada sosok spesial di dalam hidup saya, bukan karena dia memiliki karet dua dan telur dadar di kepalanya sehingga dia disebut spesial. Dia spesial karena dia lah yang akan aku pilih menjadi partner hidupku kelak (AAMIIN *nada jumatan).

Bisa dibilang dia bukan lah tipe saya, tapi jika kalian bertanya sebaliknya ke dia, maka dia akan menjawab bahwa aku adalah tipe lelaki idaman nya *tsaaah, benerin rambut. Kami adalah teman satu kantor, dulu kami adalah musuh abadi di kantor, saya sangat membenci dia karena ada beberapa hal yang dia lakukan dan saya salah menafsirkan nya, begitu pula dia terhadap saya. Singkat cerita kami mulai berbicara dari hati kehati dan saling terbuka tentang alasan kami saling membenci. Dari hari kehari saya merasa "nyaman" jika bercerita dan bercanda bersamanya, rasa yang tidak saya dapatkan saat bersama wanita lain. Untuk itu saya beranikan diri untuk menembung nya menjadi calon partner hidup saya dan semoga itu benar-benar terwujud *AAMIIN dan semoga ditulisan saya kelak tak ada lagi tulisan tentang patah hati dan kesedihan hati, yang ada hanya kisah bahagia dan tulisan tentang pemikiran-pemikiran saya *AAMIIN.

 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar