Kamis, 20 November 2014

Mahasiswa dan Idealisme mereka




http://daenggassing.com/wp-content/uploads/2014/10/4.foto-demo-bbm-versi-media-asing-boy-point_2178569k4.jpg

Sudah tak bisa di pungkiri bahwa mahasiswa selalu identik dengan demo,  mereka menganggap bahwa demo adalah jalan satu-satunya untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi mereka. Dari pengalaman saya dulu sewaktu kuliah memang pada masa itu ialah masa yang berapi-api,  yang maunya menang sendiri walau salah tak peduliiii uwo uwooo darah mudaaa *malah nyanyi.

Demo memang merupakan salah satu cara penyampaian aspirasi mereka,  mungkin mereka ingin seperti para seniornya di tahun 98 yang tercatat sejarah, dimana ratusan ribu bahkan jutaan mahasiswa berbondong-bondong turun ke jalan melawan senapan dan pentungan dengan niat tulus dan ikhlas hanya semata-mata demi Indonesia yang lebih baik.  Tapi kini semua berbeda dimana niatan aksi (demo) mereka bukan lagi untuk Indonesia lebih baik melainkan karena diboncengi niatan-niatan tertentu mulai dari dibayar salah satu pihak, hanya untuk eksis,  hingga mandat dari sang senior. Bahkan tak khayal ada beberapa aksi (demo) yang mengangkat isu terkesan alakadarnya dan tidak masuk di akal. Di jaman saya kuliah dulu saya tak pernah dan tak mau untuk turun kejalan bukan karena saya tidak berani tapi karena niatan yang tidak sesuai.

Demo itu adalah jalan suci terakhir untuk menyampikan pendapat, bukan malah ajang sangar-sangaran dan eksistensi.  Dulu di tahun 98 para mahasiswa sebelum turun kejalan pada malam harinya melakukan rapat tentang teknis pada saat di lapangan, tetapi sekarang berbeda para mahasiwa sebelum demo dimalam harinya melakukan ritual khusus (mabuk),  mungkin mereka pikir dengan mabuk mereka jadi kuat dan percaya diri, eh bukan nya percaya diri malah bangun kesiangan dan batal demo hahahaha.

Disini saya bukan anti terhadap mahasiswa yang berdemo,  bahkan saya salut terhadap semangat dan daya juang kalian,  tetapi saya menyayangkan betapa bodohnya kalian yang berdemo dengan menodai niatan demo itu sendiri. Demo itu bukan ajang indonesian idol yang setelah nya menjadi eksis dan terkenal,  demo juga bukan ajang mencari pundi-pundi rupiah dengan menjual idealisme,  dan demo juga bukan ajang kepatuhan terhadap para senior.  Demo merupakan salah satu bentuk perlawanan.., dimana suara dan aspirasi kita dapat di dengar mereka di atas sana dan untuk menunjukan bahwa masih ada yang mengawasi kinerja mereka, untuk masalah eksis itu dampak bukan niatan dari demo itu sendiri.

Dimana idealisme mu nak?, sebagai penutup saya akan menuliskan sebuah puisi berjudul :

MAHASISWA?

Kau nodai keringat dan darah para seniormu... 
Kau gadaikan idealisme mu demi pundi-pundi rupiah...
Dan kau anggap Jihad ini sebagai ajang pamer... 
Duhai para MAHASISWA, teriak lah....  Teriaklah sekencang-kencang nya, berteriaklah tentang keadilan,  kemanusiaan dan tentang kerakyatan.  
Tapi  jangan kau lupakan ketuhanan dan persatuan dimana itu adalah pondasi terkuat untuk membangun negri ini.
HIDUP MAHASISWA...!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar